Saturday, October 17, 2015

Memo untuk Ayah

Ayah, ternyata butuh tiga puluh tahun bagiku untuk mengerti luasnya bahasa cinta seorang Ayah...
Ayah, ternyata sangat tidak mudah menjadi laki-laki gagah perkasa dan pejuang tangguh sepertimu.
Karena baru ku tahu, begitu banyak laki-laki di luar sana yang lemah dan tak bertanggung jawab.

Ayah, ternyata tidak mudah mencari sebutir nasi.
Setelah seluruh tulang persendianku menjerit kesakitan karena bekerja.
Ayah, setiap pertanyaan-pertanyaan interogasimu, setiap teguranmu, setiap kekangmu, setiap kekhawatiranmu, setiap marahmu…itulah setulus-tulusnya bahasa cintamu, bahasa cinta seorang laki-laki sejati.

Saat diri ini susah payah menyembunyikan luka di hati, ternyata Ayah sudah tahu segalanya.
Saat diri ini menutup mulut rapat-rapat untuk tidak membuatmu susah, tiba-tiba Ayah selalu saja menghiburku seakan-akan bisa membaca semua rahasia hati ini.

Ayah, setelah tiga puluh tahun aku sangat yakin untuk berkata:
“Aku bangga memiliki Ayah sepertimu !”.

Friday, October 16, 2015

Interaksi Islam dan Sains, Renungan dari buku “Nalar Ayat-ayat Semesta” (Agus Purwanto, D.Sc)

Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran (Q.S. Az-Zumar : 9)

Kondisi umat Islam saat ini sangat tertinggal dalam penguasaan sains dan teknologi. Hal ini sudah lama disadari oleh muslim pemerhati sains dan Islam. Berbagai upaya mulai dipikrikan dan akhirnya melahirkan perilaku yang berhubungan dengan sains dan Islam; Islamisasi Islam vs Saintifikasi Islam.

Islamisasi sains muncul karena fondasi sains yang rusak akibat konsep materialisme yang menyatakan bahwa materi tersusun dari atom yang terikat kuat selamanya dan ruang & waktu sifatnya absolut (selalu ada). Hal ini jelas mengingkari adanya penciptaan materi dan keberadaan Sang Pencipta. Inilah dasar fisika klasik atau lebih dikenal fisika Newton. Berikutnya, perkembangan sains berupa penemuan teori relativitas mulai menggeser paham materialisme fisika klasik. Teori relativias menjelaskan bahwa peristiwa yang saling terkait pada jarak tertentu tidak dapat berlangsung dalam selisih waktu yang perbandingan jarak terhadap waktunya melebihi kecepatan cahaya. Misalnya dua orang astronot yang sedang berada di planet yang berbeda dengan jarak yang misalnya empat tahun kecepatan cahaya. Jika mereka saling berkirim data maka data tersebut tidak akan sampai dalam tiga atau dua tahun, melainkan butuh setidaknya empat tahun. Perkembangan lain yang menarik adalah teori mekanika kuantum yang membahas konsep lenyapnya materi (matter-antimatter annihilation). Jika elektron bertemu dengan pasangannya (positron), maka keduanya akan lenyap, sebagai gantinya muncul foton (paket cahaya). Nah, jika foton memiliki energi yang cukup, ia dapat lenyap dan tercipta pasangan elektron dan positron. Adanya penciptaan materi ini tentunya menyangkal prinisip kekekalan materi versi fisika klasik. Oleh karena materi dapat lenyap maka alam semesta pun dapat lenyap pada suatu saat (kita kenal dengan kiamat). Dengan demikian, pemerhati Islam melihat teori relativitas dan teori mekanika kuantum adalah teori yang mengakui keberadaan Tuhan. Lalu aktivitas pecocokan dengan ayat-ayat Al-Quran mulai dilakukan diantaranya ayat tentang cahaya (Q.S. An-Nur: 35), pasangan (Q.S. Yaasin: 36). Disini kita katakan bahwa sains menjadi di-islam-kan atau dicocokkan dengan ajaran-ajaran Islam/ayat-ayat di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Upaya Islamisasi ini terkadang bisa berbahaya dalam kondisi saat misalkan sains ditemukan ternyata salah, maka orang-orang yang fanatik dengan sains bisa jadi menganggap ayat Al-Quran yang salah.

Berbeda dengan Islamisasi sains, saintifikasi Islam adalah upaya menampilkan Islam menjadi ilmiah dan modern, tidak ketinggalan jaman. Yaitu meng-ilmiah-kan Islam, contohnya keutamaan shalat dijelaskan secara medis; ketika ruku’ kita melatih kandung kemih, i’tidal melancarkan pencernaan, sujud dapat melancarkan oksigen dan lain-lain. Upaya saintifikasi Islam ini dapat berakibat pendangkalan pemahaman terhadap makna ibadah yang diperintahkan Allah karena boleh proses pengilmiahan tersebut mengakibatkan kita terlalu menyederhanakan kompleksitas ilmu Allah yang ada dibalik makna ibadah itu. Karena sejatinya sebagai seorang muslim, kita melaksanakan segala perintah Allah dengan ketaatan dan yakin selalu ada maksud baik Allah dalam perintahNya tersebut.

Baik islamisasi sains maupun saintifikasi Islam adalah upaya yang masih memiliki kelemahan. Lalu, harusnya bagaimana? Pada dasarnya, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa sains itu adalah produk akal manusia, bisa benar atau salah. Sementara itu, Al-Quran adalah kebenaran mutlak. Namun, Al-Quran bukan kamus referensi sains yang membahas segalanya dari A-Z karena memang sudah menjadi kehendakNya bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia sangat sedikit dibandingkan ilmu Allah itu sendiri. Namun dari yang sedikit itu pun masih sangat sedikit kita kembangkan. Al-Quran berperan sebagai gerbang ilmu yang berisi kebenaran mutlak yang mengajak kita serius untuk berpikir tentang penciptaanNya (Q.S. Ali Imran: 190-191). Mengajak kita untuk mengembangkan sains Islam yaitu sains yang dibangun di atas pondasi Al-Quran. Itulah tugas kita :)

Thursday, October 15, 2015

Renungan tentang buku "Segarkan Hidupmu" (Syekh Muhammad Al-Ghazali)

Banyak orang yang ingin berubah menjadi lebih baik tapi seringkali menunggu momen yang tepat atau kesempatan spesial. Padahal setiap harinya sudah Allah jadikan momen yang berharga untuk kita, sungguh Allah membentangkan tangan-Nya di setiap pagi, siang dan malam untuk menerima ampunan, keluh-kesah, dan apapun bait-bait doa kita. Jadi, setiap saat adalah tepat dan spesial untuk berubah!

Maka hiduplah untuk hari ini, berubah sekarang juga dan jangan panjang angan-angan. Tahukah anda, bagaimana umur seseorang dicuri? Yaitu ketika seseorang melalaikan hari ini karena merisaukan hari esok. Dan tahukah anda bahwa perasaan bahagia, sedih, cemas atau tenang bersumber dari pikiran kita. Sama seperti air yang mengikuti bentuk wadahnya. Artinya, hidup kita dibentuk oleh pikiran kita.

Satu hal yang harus kita waspadai adalah akibat buruk waktu luang. Jika kita tidak sedang disibukkan dengan hal yang baik, pastilah kita sedang dalam kesibukan hal yang buruk. Maka, isilah waktu sebaik mungkin dengan hal-hal yang manfaat.

Khairunnas anfaahum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain. Ingin jadi sebaik-baik manusia? Kasihilah oranglain, ringankan kesulitan mereka, doakan mereka, berikanlah apa yang bisa anda berikan pada mereka. Sesiapa yang membantu kesulitan oranglain akan Allah mudahkan urusannya, sesiapa yang membahagiakan oranglain, ia pasti bahagia.

Akhirnya, kita bisa saksikan sendiri betapa hidup itu indah ketika kita syukuri, bertabur kebaikan saat kita hadapi dengan sabar. Ingatlah ikrar saat kita berdiri di depan Allah “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamiin”, sesungguhnya shalatku, ibadahkku, hidup dan matiku adalah untuk Allah semata!

Maka, hiduplah bersama Allah, untuk Allah, menjadi sebenar-benar hamba karena untuk itulah kita diciptakanNya. Kenalilah Ia lebih dalam…niscaya anda menjadi tenang karenaNya, menjadi manusia terbaik karenaNya, menjadi sukses karenaNya, menjadi tak takut karena ada DIA, menjadi tak lemah karena ada DIA.